Merawat Alam, Menguatkan Ekonomi Desa: Inovasi Rumah Kreatif Boek Khaman Bersama Pertamina

NAGARA.ID, MUARA ENIM — Dedaunan yang tumbuh di sekitar desa memiliki nilai lebih ketika diolah menjadi pewarna alami batik. Bambu yang belum dimanfaatkan secara optimal pun dapat berubah menjadi kerajinan bernilai jual. Di Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, potensi alam tersebut dikembangkan menjadi bagian dari upaya menguatkan ekonomi masyarakat melalui Rumah Kreatif Boek Khaman.

Di tempat ini, pemberdayaan masyarakat tidak hanya diarahkan pada keterampilan menghasilkan produk. Pemanfaatan bahan lokal dan pengelolaan limbah produksi juga menjadi bagian dari upaya membangun kegiatan ekonomi yang lebih memperhatikan lingkungan.

Rumah Kreatif Boek Khaman merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) PT Pertamina EP Limau Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4. Melalui pendampingan perusahaan, warga didorong mengembangkan potensi desa menjadi kegiatan produktif yang memiliki peluang untuk tumbuh secara berkelanjutan.

Gambaran tersebut terlihat dalam kegiatan Media Field Trip Rumah Kreatif Boek Khaman yang diikuti insan media dan peserta Pelatihan Local Community Leaders Program (PLCLP) 2026 pada Jumat, 10 Juli 2026. Para peserta menyaksikan proses produksi, mengenal hasil kerajinan, serta berdialog dengan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pemberdayaan.

Kegiatan itu memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi desa dapat berjalan beriringan dengan pemanfaatan sumber daya lokal dan kepedulian terhadap lingkungan. Namun, keberlanjutan program juga bergantung pada kemampuan masyarakat menjaga kualitas produk, memperluas pemasaran, dan mengelola usaha secara mandiri.

Mengolah Potensi Lokal Menjadi Peluang Ekonomi

Rumah Kreatif Boek Khaman telah mendapatkan pendampingan sejak 2023. Dalam perkembangannya, sedikitnya 47 penerima manfaat terlibat dalam kelompok batik, pengolahan pangan, dan kerajinan tangan. Kelompok menjahit dan merajut juga mulai tumbuh, memperluas jenis keterampilan yang dikembangkan masyarakat.

 

Dari Penjualan Batik Boek Khaman kini mampu mencapai sekitar 200 lembar batik setiap bulan dengan omzet berkisar Rp20 juta hingga Rp30 juta. Tidak hanya omzet jutaan rupiah, salah satu pengrajin batik bernama Syafira juga mampu membiayai perkuliahannya dari hasil menjual batik.

Manager Relations Zona 4 Pertamina, Frans Alexander A. Hukom, menegaskan bahwa keberhasilan pemberdayaan tidak semata-mata dilihat dari kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari perubahan kemampuan masyarakat.

“Kami ingin masyarakat mampu berdiri di atas kekuatan dan potensi yang mereka miliki sendiri. Ketika masyarakat mandiri, maka program ini telah mencapai tujuan utamanya,” ujar Alexander.

Pendampingan tersebut diharapkan membantu masyarakat mengembangkan kemampuan yang dapat menjadi bekal untuk menjalankan kegiatan produktif. Dengan keterampilan yang terus diasah, warga memiliki kesempatan untuk menghasilkan produk sekaligus mengembangkan usaha berbasis potensi desa.

Pemilik Rumah Kreatif Boek Khaman, Etika Oktasari, mengatakan pendampingan Pertamina menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan rumah kreatif yang dirintis sejak 2022.

“Bukan hanya keterampilan yang meningkat, tetapi juga kepercayaan diri masyarakat untuk terus berkarya dan mengembangkan usaha,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak hanya berkaitan dengan hasil produksi. Proses belajar, peningkatan keterampilan, dan tumbuhnya kepercayaan diri juga menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan masyarakat.

Batik Alami dan Kerajinan Bambu Berbasis Potensi Desa

Salah satu ciri Rumah Kreatif Boek Khaman adalah pemanfaatan bahan alam untuk menghasilkan produk kerajinan. Daun deduhuk, daun jati, daun matoa, dan kunyit digunakan sebagai bahan pewarna alami batik khas desa.

Pemanfaatan bahan-bahan tersebut memperlihatkan peluang untuk mengembangkan produk yang memiliki karakter lokal. Tanaman yang tersedia di sekitar masyarakat tidak hanya menjadi bagian dari lingkungan, tetapi juga sumber inspirasi bagi kegiatan ekonomi kreatif.

Selain batik, bambu diolah menjadi beragam produk, seperti piring, toples, dompet, dan tempat tisu. Melalui keterampilan tangan, bahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat diubah menjadi produk dengan nilai jual.

Meski demikian, potensi ekonomi tersebut perlu didukung pengembangan desain, konsistensi kualitas, kemasan yang menarik, serta pemasaran yang lebih luas. Dengan demikian, produk tidak hanya mampu dihasilkan, tetapi juga berpeluang menjangkau konsumen dan mempertahankan keberlangsungan usaha.

Rumah kreatif menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Di dalamnya, keterampilan tradisional dapat dipadukan dengan pengembangan produk agar potensi lokal semakin relevan dengan kebutuhan pasar.

Mengelola Limbah, Menjaga Lingkungan

Pengembangan usaha kerajinan juga menghadirkan tanggung jawab untuk memperhatikan dampak proses produksi terhadap lingkungan. Di Rumah Kreatif Boek Khaman, salah satu upaya yang dilakukan adalah mengolah limbah cair dari proses membatik melalui sistem penyaringan.

Sistem tersebut menggunakan sejumlah material, antara lain arang aktif, akar wangi, pasir, kerikil, dan ijuk. Penyaringan ditujukan untuk memperbaiki kualitas air agar lebih jernih dan dapat dimanfaatkan kembali sesuai kelayakannya.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan praktik produksi yang lebih bertanggung jawab. Pengembangan kegiatan ekonomi tidak cukup hanya memperhitungkan nilai jual produk, tetapi juga perlu memperhatikan pengelolaan sisa produksi agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan lingkungan.

Meski demikian, kejernihan air tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa air telah aman digunakan kembali. Pemantauan kualitas air dan pengelolaan sesuai peruntukan tetap diperlukan untuk memastikan hasil pengolahan memenuhi persyaratan yang berlaku.

Pendekatan tersebut penting bagi pengembangan usaha berbasis masyarakat. Pemanfaatan bahan lokal perlu berjalan bersama pengelolaan limbah yang tepat agar pertumbuhan ekonomi tidak mengabaikan kelestarian lingkungan.

Kolaborasi untuk Keberlanjutan Pemberdayaan

Upaya mengembangkan potensi desa juga melibatkan kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Camat Rambang Niru, Deni Eka Saputra, menyebut sinergi berbagai pihak telah membawa perubahan bagi wilayahnya.

Desa Lubuk Raman meraih Juara III tingkat nasional dalam Pengembangan Desa Tahun 2025. Capaian tersebut menjadi salah satu penanda perkembangan desa dalam mendorong potensi lokal.

Namun, penghargaan bukanlah akhir dari proses pembangunan. Tantangan berikutnya adalah memastikan keterampilan masyarakat terus berkembang, produk memiliki akses pasar, dan kegiatan usaha dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Dalam Media Field Trip, peserta menyaksikan pembuatan batik, kerajinan bambu, serta pengolahan produk pangan. Mereka juga berdialog dengan anggota kelompok binaan untuk mengenal lebih dekat proses pemberdayaan yang berlangsung di desa.

Pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai hubungan antara pendampingan, keterampilan, dan pemanfaatan potensi lokal. Program perusahaan menjadi salah satu unsur pendukung, sedangkan masyarakat tetap memegang peran penting dalam menjalankan dan menjaga keberlanjutan kegiatan.

Dari Potensi Alam Menuju Kemandirian Desa

Kisah Rumah Kreatif Boek Khaman menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi desa dapat bertolak dari sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat. Daun yang diolah menjadi pewarna batik, bambu yang dijadikan kerajinan, serta keterampilan warga yang terus berkembang menjadi bagian dari upaya mengubah potensi lokal menjadi peluang produktif.

Melalui Program PPM PT Pertamina EP Limau Field, bagian dari PHR Zona 4, upaya pemberdayaan tersebut mendapat dukungan pendampingan. Keberhasilan jangka panjangnya akan ditentukan oleh kemampuan masyarakat mengembangkan kualitas produk, memperluas pemasaran, menjaga lingkungan, dan menjalankan usaha secara mandiri.

Bagi Desa Lubuk Raman, Rumah Kreatif Boek Khaman bukan sekadar tempat membuat batik atau kerajinan tangan. Rumah kreatif ini menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan, menumbuhkan kepercayaan diri, dan membuka peluang usaha melalui potensi yang dimiliki masyarakat sendiri.

Merawat alam dan menguatkan ekonomi desa pada akhirnya bukan dua tujuan yang harus dipertentangkan. Dengan pengelolaan yang tepat, keduanya dapat berjalan bersama: sumber daya lokal dimanfaatkan secara bijak, limbah ditangani secara bertanggung jawab, dan keterampilan masyarakat terus dikembangkan.

Dari Lubuk Raman, upaya tersebut menghadirkan pelajaran bahwa pemberdayaan yang berkelanjutan bukan hanya tentang menghasilkan produk, melainkan juga membangun kemampuan masyarakat untuk menjaga lingkungan, mengembangkan usaha, dan menentukan masa depan desanya.

Amru Salam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × one =