Ketika Jalan Pulang Berubah Menjadi Jalan Harapan, TMMD Ke – 129 Kodim 0418/Palembang Hadir untuk Rakyat

PALEMBANG – Tidak semua perubahan dimulai dari sesuatu yang besar. Di Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Kota Palembang, perubahan itu justru berawal dari jalan tanah sepanjang 750 meter yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari keseharian warga. Jum’at (14/8/2026).

Ketika hujan turun, jalan berubah becek. Kendaraan roda empat sulit melintas. Aktivitas warga pun ikut terbatas. Namun, kondisi itu kini menjadi cerita masa lalu.

Melalui TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang, jalan tersebut dibangun hingga rampung 100 persen. Akses yang sebelumnya sulit dilalui kini menjadi jalan yang lebih layak dan dapat dilintasi kendaraan roda empat.

Bagi orang yang hanya melihat angka, 750 meter mungkin tidak terlalu berarti.

Tetapi bagi warga Talang Jambe, 750 meter itu adalah jarak antara keterbatasan dan kemudahan. Di situlah makna TMMD menemukan wajahnya.

Bukan Sekadar Membangun Jalan

TMMD ke-129 yang berlangsung sejak 16 Juli hingga 13 Agustus 2026 bukan hanya menghadirkan pembangunan fisik. Program tersebut menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari akses jalan, rumah tinggal, air bersih hingga fasilitas umum.

Jalan dibangun untuk membuka akses.Rumah diperbaiki untuk menghadirkan kenyamanan.

Sumur bor dibuat untuk menghadirkan air.

Dan seluruhnya dikerjakan dengan satu semangat: gotong royong.

Personel Satgas TMMD bekerja bersama masyarakat. Tidak ada jarak antara seragam dan pakaian warga ketika cangkul, semen, material bangunan dan berbagai pekerjaan pembangunan harus diselesaikan.

Keringat TNI dan masyarakat bercampur di lokasi sasaran.

 

Dari situlah pembangunan menjadi lebih dari sekadar proyek fisik. Ia berubah menjadi proses membangun kebersamaan.

Dari Rumah yang Tak Layak Menjadi Tempat Pulang. Di balik sasaran pembangunan jalan, ada cerita lain yang tak kalah menyentuh. Sejumlah rumah warga yang sebelumnya masuk kategori Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) mendapat rehabilitasi melalui TMMD. Dinding, lantai, plafon, pintu dan bagian rumah lainnya diperbaiki secara bertahap hingga menjadi tempat tinggal yang lebih layak, aman dan nyaman.

Sebab rumah bukan sekadar empat dinding. Di dalamnya ada keluarga. Ada anak-anak yang tumbuh. Ada orang tua yang mencari ketenangan setelah bekerja. Ada doa yang dipanjatkan setiap hari.

Karena itu, ketika rumah diperbaiki, sesungguhnya yang dibangun bukan hanya bangunan, tetapi juga rasa aman sebuah keluarga.

Ketika Air Menjadi Simbol Kehidupan

Persoalan lain yang dijawab TMMD adalah kebutuhan air.

Pembangunan sumur bor di sejumlah titik, termasuk di Mushola Hidayatullah dan kawasan Kampung Kreatif Pelangi, menjadi bagian dari upaya menghadirkan sumber air yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Jika jalan membuka akses, maka air menjaga kehidupan. Air yang keluar dari kedalaman tanah bukan hanya hasil dari pengeboran. Bagi warga, air berarti kebutuhan sehari-hari. Air berarti kebersihan. Air berarti kemudahan. Dan air berarti harapan bahwa kebutuhan dasar masyarakat semakin terpenuhi.

TNI Tidak Datang Sendiri

Keberhasilan TMMD ke-129 tidak lahir dari kerja TNI semata.

Pemerintah daerah memberikan dukungan. Masyarakat membuka ruang dan ikut bekerja. Tokoh masyarakat, tokoh agama serta berbagai unsur lainnya turut menjadi bagian dari rangkaian pembangunan.

Semangat gotong royong menjadi energi utama.

Dansatgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang Kolonel Arh Erik Novianto, S.Sos., menyampaikan rasa syukur karena seluruh sasaran yang dipercayakan kepada Satgas dapat diselesaikan tepat waktu.

“Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan dan sasaran TMMD ke-129 yang telah diberikan oleh Komando Atas dapat kami laksanakan dan diselesaikan tepat waktu,” ujarnya.

Namun, keberhasilan itu bukan semata-mata tentang target yang mencapai 100 persen.

Yang lebih penting adalah bagaimana hasil pembangunan tersebut tetap memberikan manfaat setelah Satgas meninggalkan lokasi.

13 Agustus 2026, Upacara Berakhir, Cerita Dimulai

Pada Kamis, 13 Agustus 2026, TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang resmi ditutup di Lapangan Sepak Bola Kelurahan Talang Jambe.

Upacara penutupan dipimpin Kasdam II/Sriwijaya Brigjen TNI Iwan Ma’ruf Zainuddin, S.E., M.M., dan dihadiri unsur Forkopimda, TNI-Polri, tokoh masyarakat, tokoh agama serta warga.

Secara resmi, program telah berakhir.

Satgas akan kembali. Namun, hasil pengabdian tetap tinggal. Jalan 750 meter tetap digunakan. Rumah-rumah yang telah direhabilitasi tetap menjadi tempat keluarga berteduh. Sumur bor tetap menjadi sumber air.

Fasilitas umum tetap dimanfaatkan.

Dan yang paling penting, semangat kebersamaan antara TNI dan masyarakat meninggalkan jejak yang tidak mudah hilang.

Dansatgas menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama.

“Keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama dan gotong royong antara TNI, pemerintah daerah dan masyarakat,” tegasnya.

Yang Tertinggal Bukan Hanya Bangunan

TMMD ke-129 akhirnya mengajarkan satu hal sederhana: pembangunan yang paling berarti adalah pembangunan yang terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika roda kendaraan kini dapat melintasi jalan yang dahulu sulit ditembus, di sanalah perubahan terlihat.

Ketika sebuah keluarga dapat tinggal di rumah yang lebih layak, di sanalah harapan tumbuh.

Ketika air dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, di sanalah pengabdian menemukan maknanya.

Dan ketika TNI serta masyarakat bekerja dalam satu barisan, di sanalah kemanunggalan benar-benar hidup.

Karena itu, TMMD ke-129 bukan sekadar cerita tentang 750 meter jalan, rehabilitasi rumah atau pembangunan sumur bor.

Ini adalah cerita tentang bagaimana keterbatasan perlahan diubah menjadi kesempatan.

Tentang bagaimana kesulitan dijawab dengan kerja nyata.

Tentang bagaimana gotong royong mampu mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa menjadi sesuatu yang berarti.

TMMD boleh ditutup. Tetapi jalan pengabdian tidak pernah benar-benar berakhir.

Sebab jalan yang dibangun akan terus dilalui, rumah yang diperbaiki akan terus menjadi tempat pulang, air yang dihadirkan akan terus menghidupi, dan kebersamaan yang ditanamkan akan terus tumbuh di tengah masyarakat.

Dari Talang Jambe, sebuah pesan sederhana lahir: ketika TNI datang bersama rakyat, yang dibangun bukan hanya fasilitas, tetapi masa depan dan harapan.

(Amru Mitra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seven + 8 =