Dari Desa ke Panggung Nasional, Inovasi Olahan Pinang Suhartini Angkat Martabat Perempuan

NAGARA.ID, MUSI RAWAS – Di sebuah desa bernama Sukakarya di Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, buah pinang bukan sekadar komoditas. Pinang menjadi saksi perjuangan seorang perempuan bernama Suhartini membangkitkan perekonomian di tanah kelahirannya. Senin (3/8/2026).

Sukakarya merupakan sebuah desa kecil yang berjarak 21 km dari pusat Musi Rawas. Sekitar 1.842 orang penduduknya dalam usia produktif, tetapi 847 orang di antaranya (45,89 persen) tidak bekerja. Di desa itu, 584 orang atau 69 persen penduduknya adalah perempuan yang rentan secara sosial dan ekonomi. Sebagian dari mereka berpendidikan rendah dan terpaksa menikah di usia dini. Sebagian lainnya terpaksa harus bekerja sebagai pekerja migran.

Kondisi ini membuat Suhartini resah. Dia ingin membuat perubahan di Sukakarya. Keinginan tersebut perlahan terwujud usai ia mengikuti pelatihan pertanian dan kewirausahaan pada 2018 di Lahat, Sumatera Selatan. Sepulangnya dari Lahat, Suhartini membawa bekal ilmu budidaya tanaman dan kewirausahaan. Ia pun bertekad memanfaatkan ilmu tersebut untuk memberdayakan perempuan-perempuan di Sukakarya yang selama ini dipandang sebelah mata.

Suhartini pun mengumpulkan 15 orang perempuan di desa itu dan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati. Langkah pertama mereka adalah melakukan budidaya jahe di dalam polybag. Opsi ini dipilih karena Sukakarya sering dilanda banjir, sehingga tanaman di kebun dan sawah berpotensi gagal panen saat musim hujan.

Dengan modal patungan Rp10 ribu per orang, mereka memulai budidaya jahe. Sekitar 3.000 bibit jahe ditanam di dalam polybag. Setelah panen, jahe-jahe tersebut diolah menjadi bandrek. KWT Melati berkembang perlahan. Akan tetapi, Suhartini menyadari KWT Melati bisa berdampak lebih besar bila menggarap potensi lokal yang sudah ada. Pohon pinang jawabannya.

Sebagian warga desa tersebut memiliki kebun pohon pinang. Namun, warga Sukakarya tidak menggarap pinang dengan serius karena harga jual yang rendah di tengkulak. Berkisar Rp4.000 per kg. Padahal, harga pinang di pasar global rata-rata Rp19 ribu per kg. Warga memilih menebang pohon pinang untuk dijual saat musim lomba 17 Agustusan karena lebih menguntungkan.

Niat Suhartini memperluas dampak baik KWT Melati mulai terwujud pada 2021. Saat itu, PT Pertamina Pendopo Field membuat program Gerakan Perempuan Lestarikan Alam Melalui Konservasi Pinang (GEMILANG).

Ibu-ibu KWT Melati mendapatkan pelatihan teknis di bidang pertanian dan pengolahan pinang dari PEP Pendopo yang merupakan bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4. Mereka juga dibimbing untuk melakukan diversifikasi produk serta peningkatan produksi olahan pinang.

Suhartini dan para perempuan di KWT Melati mampu memproduksi sekitar 900 kg pinang kering dan 200-300 kg pinang muda per bulan dari lahan 15 hektare di desa itu. Pinang-pinang tersebut diolah menjadi sejumlah produk, seperti kopi pinang, bandrek pinang dan permen pinang. Sementara itu, daun pinang dimanfaatkan sebagai pewarna eco-print.

Selain karena kegigihan Suhartini, produk-produk KWT Melati melejit saat momentum pandemi Covid-19. Tingkat konsumsi masyarakat terhadap minuman herbal meningkat kala itu. Racikan jahe dan pinang Suhartini laris manis dijual ke berbagai daerah.

Saat ini, KWT Melati mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp. 8 juta per bulan dari pengolahan pinang. Setiap anggota yang terlibat dalam proses produksi diupah Rp12.500 per kg. Mereka juga memiliki hak untuk meminjam uang kas kelompok untuk kepentingan pribadi, seperti biaya sekolah anak hingga hajatan keluarga. KWT Melati yang semula hanya beranggotakan 12 orang, sekarang sudah memiliki 30 orang anggota.

“Perempuan di Desa Sukakarya sekarang dipandang sebagai orang-orang yang berkemampuan, bukan lagi sebagai penerima belas kasihan. Kami membantu ekonomi keluarga dan desa melalui kemampuan kami mengolah potensi pinang dan tanaman herbal lainnya,” ucap Suhartini.

Kiprah Suhartini membawa KWT Melati terus naik kelas. Kelompok ini menjadi langganan undangan pameran di tingkat kabupaten/kota dan provinsi di Sumatera Selatan. KWT Melati juga beberapa kali menghadiri undangan pameran produk UMKM tingkat nasional serta internasional.

Suhartini juga meraih sejumlah penghargaan berkat inspirasi yang diberikan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendapuk Suhartini sebagai satu dari 20 pahlawan lokal pada Local Heroes Inspiration Award 2024.

Suhartini tak mau sukses sendirian. Ia aktif memberi pelatihan kepada perempuan-perempuan muda di daerahnya. Ia juga sering memberi pelatihan bagi perempuan-perempuan di kelompok lain, baik di Musi Rawas atau daerah-daerah lainnya.

“Saya ingin semua perempuan percaya bahwa perempuan bukan kelas kedua. Kami perempuan dan kami bisa memberi dampak baik bagi sekitar,” ujar Suhartini.

Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Iwan Ridwan Faizal menyampaikan ketekunan Suhartini menjadi bukti bahwa perempuan bisa memimpin kemajuan bila diberi ruang setara. Kegigihan Suhartini menginspirasi perusahaan untuk terus berkomitmen tumbuh bersama masyarakat di sekitar wilayah operasi.

“PEP Pendopo Field dan PHR berkomitmen untuk terus menciptakan ruang-ruang kesetaraan tersebut melalui program CID seperti GEMILANG agar lahir Suhartini-Suhartini lainnya,” ujar Iwan.

‎Tentang PHR Zona 4
PHR Zona 4 merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina Regional Sumatra yang dipimpin oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). PHR Zona 4 mengoperasikan tujuh wilayah kerja Pertamina EP (PEP) dan Pertamina Hulu Energi (PHE), yaitu PEP Prabumulih Field, PEP Limau Field, PEP Adera Field, PEP Pendopo Field, PEP Ramba Field, PHE Ogan Komering, dan PHE Raja Tempirai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 × one =