Oleh: A Edison Nainggolan
PAGI ini saya dikagetkan oleh berita yang datang dari A Ropik, master nasional catur Sumsel yang menelpon pagi menjelang siang. “Pak Mursili meninggal dunia tadi pagi,” kata Ropik singkat, Sabtu (30/8/2025).
Saya nyaris tak percaya dan saya kembali menelpon dia balik sekali lagi. “Apa benar Pik? Dapat informasi darimana,” kata saya ingin memastikan kembali.
Kekagetan ini tentu saja beralasan karena dua hari lalu saya bersama Ropik membesuk Mursili di RS Charitas, Paviliun Elisabeth. Dia nampak ceria dan sempat bersenda gurau. Pikirannya masih tajam, ingatannya baik. “Masih ingat siapa yang datang ini,” kata saya memancing pertanyaan. “Tahulah, Edison,” kata dia.
Dia mengatakan bahwa keadaanya semakin membaik setelah dirawat beberapa hari. “Cuma susah untuk mengangkat tangan dan kaki kiri saja,” kata pria 74 tahun kelahiran Kedaton, Kabupaten Ogan Komering Ulu ini.
Hari ini, bahkan rencananya dia akan pulang ke rumahnya di kawasan Mas Karebet Km 9 Palembang. Ropik telah diminta untuk menemaninya dalam masa pemulihan dari serangan stroke. “Rencana saya bersama istri memang ingin ke rumahnya untuk ikut merawat sebulan di sana, tetapi Tuhan berkata lain dan ternyata Pak Mursili telah meninggal,” kata Ropik dengan nada sedih.
Sebagaimana kita ketahui, Mursili Tjik Aman adalah salah satu tokoh penting dalam dunia catur di Sumatera Selatan. Dia dikenal tegas, dan berdedikasi namun juga sangat kebapakan. Tak segan-segan ia mengeluarkan uang pribadi kepada mereka yang membutuhkan. Ia juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Sumsel dan memiliki peran besar dalam mendukung perkembangan olahraga catur Sumsel.
Hal ini diakui pula oleh sejumlah penggiat catur Sumsel seperti Prima Nursinggih, Nurdin Abubakar, dan Doni Tiansyah, generasi muda catur asal Plaju Palembang. Semua menyatakan kesedihan yang mendalam.
Mendukung Atlet Sumsel
Peranan Mursili Tdi Catur Sumsel tak dapat dipungkiri. Pada awal tahun Mursili Tjik Aman bersama Percasi Sumsel menghadapi tantangan besar saat mengupayakan keberangkatan atlet catur Sumsel ke ajang Kejurnas Pra PON di Brastagi, Sumatera Utara.
Meski sempat terkendala pendanaan dari KONI Sumsel, Mursili berhasil mencari solusi dengan meminjam dana dari Pengda Percasi PALI dan Muba. Berkat perjuangan ini, lima atlet putri Sumsel, termasuk Alivia Novyansari WNM dan Nyimas Sonya Nafa WNM, berhasil lolos ke PON Papua 2020.
Mursili juga terlibat dalam pelaksanaan Turnamen Catur Kapolda Cup II di Palembang, yang digelar pada November 2020. Turnamen ini bertujuan untuk menjaring atlet potensial dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga tingkat master dan veteran. Acara ini menjadi salah satu langkah penting untuk regenerasi pecatur berbakat di Sumsel.
Mursili yang merupakan pendidik selalu menekankan pentingnya Training Center (TC) untuk mempersiapkan atlet catur Sumsel secara maksimal. Ia juga mendorong KONI Sumsel untuk lebih aktif mendukung cabang olahraga, terutama catur, agar bisa mencetak prestasi di tingkat nasional.
Bukan cuma itu, Mursili juga pernah menjadi Sekum Percasi Sumsel dan Wakil Pembina Akademi Catur Sumsel. Dia menjadi bukan hanya menjadi sosok administratif yang handal, tetapi juga penggerak utama dalam upaya memajukan olahraga catur, baik melalui turnamen rutin maupun pembinaan atlet muda. Dengan dukungannya, Percasi Sumsel terus melahirkan pecatur berbakat yang mampu bersaing di kancah nasional.
Sekretaris Umum Percasi Sumsel, Prima yang dimintai tanggapannya mengatakan, Murzili Tjik Aman, adalah pelopor dan pengabdi Catur Sumatera Selatan
“Beliau adalah salah satu tokoh penting yang memberikan kontribusi besar dalam pengembangan cabang olahraga catur di wilayah ini, serta meninggalkan warisan yang sangat berarti bagi kemajuan catur Sumatera Selatan,” kata Prima.
Menurut Prima, Murzili mengabdikan dirinya sebagai pengurus Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Provinsi Sumatera Selatan selama lebih dari satu dekade, yaitu dari tahun 2004 hingga 2016. Selama masa pengabdiannya, beliau dikenal sebagai sosok yang berdedikasi tinggi, memiliki visi yang jelas, serta semangat yang tidak pernah padam untuk memajukan olahraga catur di daerahnya.
Salah satu warisan terbesar yang ditinggalkan oleh almarhum adalah pendirian Akademi Catur Sumatera Selatan bersama Badrullah Daud Kohar.
Akademi ini telah menjadi tempat pembinaan bagi sejumlah atlet muda berbakat yang berhasil mengharumkan nama Sumatera Selatan di kancah nasional dan internasional. Atlet-atlet yang lahir dari bimbingan akademi ini antara lain Surya Setiawan, Hazaki, Haikal, Audi Ali, Alda, Sonya, Shieta, dan Alicia, serta banyak lagi nama-nama yang terus mengukir prestasi dan membawa kebanggaan bagi daerah Sumsel.
“Kepergian beliau merupakan kehilangan yang sangat besar bagi keluarga besar Percasi dan dunia catur Sumatera Selatan secara keseluruhan. Beliau adalah sosok senior yang penuh dedikasi, sekaligus inspirator yang tulus membangun fondasi bagi pengembangan atlet catur di wilayah ini. Semoga segala pengabdian dan jasa beliau mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan menjadi berkah bagi semua pihak yang terus melanjutkan perjuangan beliau,” kata Prima.
Sejumlah tokoh dan penggiat catur dari dalam maupun luar Sumatera Selatan juga turut menyampaikan ungkapan duka cita serta dan doa terbaik bagi almarhum. “Sosok Bapak Murzili dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, penuh semangat, dan sangat berdedikasi terhadap kemajuan olahraga catur. Pengabdiannya menjadi teladan dan inspirasi bagi generasi penerus yang bercita-cita mengangkat prestasi catur Sumatera Selatan ke tingkat lebih tinggi,” papar Prima.
Sementara dua master nasional Sumsel, Nurdin Abubakar dan A Ropik juga menyatakan hal senada. “Saya merasa kehilangan. Beliaulah yang telah mengundang saya jadi pelatih di Akademi Catur Sumsel sejak 2013. Beliau orang baik dan Dermawan suka membantu pecatur yg membutuhkan bantuan. Selamat jalan Buya… Mursili Tjik Aman Semoga Allah SWT mengampuni semua Dosa2 bapak dan berada di tempat terbaik di Sisi NYA… Aamiin,” kata Nurdin yang sedang mengawal atlet Sumsel bertanding di Jakarta melalui pesannya di WA.
Sementara Ropik, tak bisa berkata-kata banyak. “Dia sudah saya anggap seperti orang tua saya sendiri. Saya tak akan pernah melupakan kebaikan beliau, saya sangat sedih semoga arwahnya diterima Allah SWT,” kata Ropik.
Rasa kehilangan ini juga berseliweran di WA Group Komunitas Catur Online (KCO) Sumsel yang beranggotakan dua ratusan penggiat catur. Semuanya mendoakan dan mengenang kebaikan almarhum.
Selamat jalan Pak Mursili, turut berduka cita yang sedalam-dalamnya semoga Khusnul Khotimah.
A. Edison Nainggolan, penggiat catur Sumsel